Elegant Rose SenjaDnanti: April 2015

Selasa, 21 April 2015

Tak terganti II

Aku merindukannya hingga malam semakin larut aku masih menatap ponselku, melihat fotonya membuat aku makin merindu, sudah seminggu ia tak ada kabar.
Rifandi diky apa kabarmu, apa yang salah dengan kita hingga kamu tak kunjung memberi kabar atau kamu sedang berpikir, gerutuku dalam hati.

Malam semakin larut tugas kampusku pun belum juga selesai, akhirnya aku meletakkan ponselku, meninggalkan hayalan tentang diky dan mulai mengerjakan tugasku. Aku sangat hobi mengemil jadi setiap membuat tugas aku pasti mengemil makanan ringan, karena mengemil bisa membuat mata ku tak mengantuk. Sudah hampir 3 jam aku mengerjakan tugas dan akhirnya selesai juga, aku melirik jam di dinding ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku menghela napas panjang. 

Baru aku ingin merebahkan tubuhku ponselku berdering, aku meraihnya dengan malas tapi saat aku membukanya tertera nama diky. Mataku yang tadinya sudah sangat mengantuk tiba-tiba tak mengantuk lagi, aku membaca pesannya.

“Bun maaf seminggu ini aku tak menghubungimu, maaf telah mengganggu tidurmu malam ini tapi aku merindukanmu, aku ingin memberi jawaban atas pertanyaan mu minggu lalu. Bun seminggu aku berusaha menghilang, tak memberi kabar, menahan kerinduan ini, berusaha fokus pada kuliah ku tapi ternyata semua semakin berantakan, aku terus bertanya pada hatiku, aku bertanya pada tuhan, apakah ini cinta atau hanya obsesi belaka? Tapi malam ini semua tak dapat ku bendung lagi, aku benar-benar merasakan cinta dalam hatiku, aku menemukan jawabannya. Aku mencintaimu Embun Ramadhani”


Seketika air mata membasahi pipiku, aku tak mampu merangkai kata lagi dan aku memutuskan untuk tidur, berharap aku bertemu dengannya lewat mimpi. Karena sesungguhnya aku pun begitu mencintai dan merindukannya.

Bersambung...

Jumat, 17 April 2015

Tak terganti

          Awalnya saling berkenalan dan dari tatapan pertama kali bertemu mungkin ia jatuh hati, mungkin juga aku jatuh hati. Tapi tidak, aku tak ingin menjalin hubungan dengan orang yang sudah termiliki orang lain.
Tapi aku pun tak bisa pungkiri, ia begitu mempesona. Wajahnya, senyumnya yang khas dengan gigi gingsul yang ia miliki, badannya yang tegap, caranya berbicara dengan kewibawaannya. Aaah aku begitu terpesona
Namun, aku tak mampu memilikinya...

          Aku singkirkan perasaan itu setiap kali kamu menghubungiku, susah payah aku membiasakan diri agar aku tak jatuh cinta kepadamu. Tapi sering kali pembicaraan mu mengarah pada sesuatu yang aku impikan serta yang aku takutkan; Cinta.
Anggap saja aku seseorang yang mudah jatuh cinta, tapi sungguh kali ini aku benar-benar serius dengan perasaan ini, ini bukan hanya sekedar obsesi belaka.

          Semakin hari kita semakin dekat, semakin pula aku merasa bahagia sekaligus merasa khawatir takut akan dibilang perusak hubungan orang lain, namun kamu selalu meyakini bahwa apa yang aku takuti takkan pernah terjadi.
Pesan singkat yang selalu kamu kirim kepadaku lewat BBM selalu berisi kata manis,seperti pujian juga perhatian, pesan singkat itu selalu aku tunggu, seperti kamu yang telah 3 bulan terakhir ini aku tunggu.

                “Embun, sudah tidur?”  sapanya malam itu
                “Belum, kenapa dik?”  balasku kepadanya, dalam hati aku bertanya kenapa ia selarut ini menghubungiku, tumben sekali.
Dengan cepat ia membalas lagi “Bun, aku melepaskannya. Rasanya semua terlalu hampa selama ini, tak ku temukan lagi kebahagian itu dalam hubungan ini.”

Terkejut juga bahagia perasaanku saat membacanya, lalu aku membalas “Sudahkah yakin pada keputusanmu dik?” Hanya kalimat itu yang mampu keluar dalam otakku, bukan karena terlalu bahagia tapi karena ini sudah sangat larut membuat otakku sulit untuk diajak berpikir.

                “Iya, aku sudah sangat yakin. Ntah ini pantas atau tidak, bun aku menyayangimu! Aku merasa bahagia saat denganmu, ini jugalah salah satu alasan mengapa aku melepaskan winda”

Sungguh saat membacanya otakku terpaksa dibuat berpikir keras, lama aku terdiam dan hanya menatap ponselku hingga diky membalas lagi dengan berkata “Bun, maaf aku mengganggu malam mu tapi sungguh aku hanya ingin kamu tau inilah realitanya”

Bukan ingin menjadi manusia munafik, tapi ntah kenapa aku ragu padanya. Ada kekhawatiran dalam benakku, dan tak ingin membuat ia menunggu lebih lama aku membalas pesannya “Dik, ini terlalu cepat rasakan saja dulu dan tanyakan pada hatimu sebanarnya ini benar rasa sayang atau hanya obsesi.”


Mungkin ia kecewa pada jawaban ku atau mungkin ia sedang berpikir,ah ntahlah ia hanya read bbm ku malam itu. Hingga sampai seminggu lamanya ia tak menghubungiku lagi.

Bersambung...