Aku merindukannya hingga malam semakin larut aku masih
menatap ponselku, melihat fotonya membuat aku makin merindu, sudah seminggu ia
tak ada kabar.
Rifandi diky apa kabarmu, apa yang salah dengan kita hingga
kamu tak kunjung memberi kabar atau kamu sedang berpikir, gerutuku dalam hati.
Malam semakin larut tugas kampusku pun belum juga selesai,
akhirnya aku meletakkan ponselku, meninggalkan hayalan tentang diky dan mulai
mengerjakan tugasku. Aku sangat hobi mengemil jadi setiap membuat tugas aku
pasti mengemil makanan ringan, karena mengemil bisa membuat mata ku tak
mengantuk. Sudah hampir 3 jam aku mengerjakan tugas dan akhirnya selesai juga,
aku melirik jam di dinding ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku menghela napas
panjang.
Baru aku ingin merebahkan tubuhku ponselku berdering, aku meraihnya
dengan malas tapi saat aku membukanya tertera nama diky. Mataku yang tadinya
sudah sangat mengantuk tiba-tiba tak mengantuk lagi, aku membaca pesannya.
“Bun maaf seminggu ini aku tak
menghubungimu, maaf telah mengganggu tidurmu malam ini tapi aku merindukanmu,
aku ingin memberi jawaban atas pertanyaan mu minggu lalu. Bun seminggu aku
berusaha menghilang, tak memberi kabar, menahan kerinduan ini, berusaha fokus
pada kuliah ku tapi ternyata semua semakin berantakan, aku terus bertanya pada
hatiku, aku bertanya pada tuhan, apakah ini cinta atau hanya obsesi belaka?
Tapi malam ini semua tak dapat ku bendung lagi, aku benar-benar merasakan cinta
dalam hatiku, aku menemukan jawabannya. Aku mencintaimu Embun Ramadhani”
Seketika air mata membasahi pipiku, aku tak mampu merangkai
kata lagi dan aku memutuskan untuk tidur, berharap aku bertemu dengannya lewat
mimpi. Karena sesungguhnya aku pun begitu mencintai dan merindukannya.
Bersambung...