Senang sekali rasanya bisa selalu menikmati senja seperti ini hanya di temani secangkir cappucino hangat dan laptop di depan ku, sudah seminggu ini aku selalu terbayang tatapan dingin lelaki itu tatapan yang tak pernah aku suka dari lelaki mana pun, sungguh itu menyakitkan
tapi sepertinya wajar saja lelaki itu memasang tatapan seperti itu saat sedang bertengkar dengan kekasihnya, ya tetap saja aku tak pernah menyukai tatapan dingin menyakitkan itu, sungguh memuakkan
Aku menarik napas dan mendengus dengan kesal, lagi-lagi aku mengutuk pikiran ku yang kacau karena lelaki itu dan mengutuk perbuatan bodohku mengingat "lelaki seram" itu, ya itu panggilan ku untuk lelaki itu, aku segera sadar dari perbuatan bodohku dan kembali menatap layar laptop yang sedari tadi berbunyi menunjukkan bahwa ada satu pesan yang masuk pada email pribadi ku
Sebenarnya aku sungguh malas membuka pesan-pesan yang masuk ke email pribadiku, banyak sekali pesan dari orang-orang yang tak ku kenal dan selalu memujiku dengan kalimat gombal mereka yang memuakkan itu dan aku lagi-lagi tak ingin melihat nya kubiarkan saja pesan itu tanpa ku buka bahkan tak ku lihat, aku memutar lagu favorite ku It will rain dari Bruno mars sambil melamun melihat senja yang indah ini mereka membawa ku kembali ke masa lalu...
Lelaki berwajah dingin itu, lelaki cuek itu, cinta pertamaku
Lelaki yang hadir dalam hidup ku 4 tahun lalu, lelaki yang ku kenal dari temanku, lelaki yang ku tau sangat angkuh itu pernah mengisi hari-hari ku selama setahun, memberi cinta juga sakit, memberi tawa juga tangis
"apa kabar kamu wid?...aku rindu"
sungguh aku benci mengingat mu tapi kamu selalu hadir dipikiranku, hanya kata-kata itu saja yang terus muncul di benak ku...selalu, saat aku mengingatmu
kamu tau sakitnya jadi aku? sakitnya aku ketika kamu tinggalkan begitu saja, bahkan sampai sekarang tak pernah ada kabar.. Seandainya kamu berada diposisi ku apa sanggup kamu tegar? Apa mungkin kamu mencari aku seperti aku mencarimu? Sekarang aku hanya berharap kamu tak pernah muncul lagi. karena aku tau bertemu denganmu hanya akan menambah luka wid, bahkan juga akan membuka luka lama wid..
Seandainya aku bisa teriak dan kamu bisa dengar teriakan ku wid.. aku akan berkata
"Aku benci mencintaimu wid, aku sakit seperti ini tolong jangan kembali jangan pernah kembali sekalipun kamu ingin menjelaskan alasan kepergianmu, aku tak ingin tau lagi"
Seketika air mata ku jatuh untuk kesekian kali nya, aku tersadar dan segara menghapus nya tak ingin ada yang melihat aku menangis, apa lagi jika ada yang tau aku menangisi widi lagi, senja sudah mulai tenggelam aku segara membereskan laptop ku bergegas untuk pulang dan beristirahat
Widi Ramdhani aku merindukanmu
Itu kalimat terakhir yang muncul dalam benakku saat langkah ku berhenti sejenak sebelum pulang saat aku melihat kearah senja..
Jam 08.00 aku lagi-lagi terlambat ke kampus tapi untunglah kampus hanya jarak sekilan dari tempat kost ku, aku segera berangkat dan aku suka sekali udara pagi yogyakarta ini sehingga aku tau aku terlambat pun aku masih terus saja berjalan dengan santai sambil tersenyum tapi ini sudah jadi kebiasaan ku jadi tak akan ada orang yang mengira aku gila karena tersenyum sendiri haha karena sebagian orang dalam lingkungan kampus maupun tempat kost mengenali ku, meskipun aku tak begitu kenal dengan mereka
Aku tak buang-buang waktu saat aku sampai dikampus aku langsung memasuki kelas ku, seketika aku tersentak saat aku memasuki kelas aku melihat lelaki seram itu duduk tepat didepan tempat duduk ku, tapi aku terus saja berjalan ketempat duduk ku berusaha biasa-biasa saja, ketika sahabat ku lola datang aku segera bertanya "apakah lelaki di depan ku ini mahasiswa baru?" seperti biasa aku pasti selalu jadi bahan ketawaannya mungkin karena aku memang seorang wanita yang cuek dan bahagia berpergian sendiri, tapi dulu aku pernah tak sendirian dulu ada lelaki yang membuat kebiasaan buruk ku menghilang tapi lagi-lagi itu dulu bukan sekarang..
sehingga aku tak tau jika lelaki seram itu ternyata teman sekelas ku, teman satu kampus ku aku terkaget-kaget ketika lola bilang dia mahasiswa lama dengan jitakkannya yang mendarat ke kepala ku dan aku hanya bisa terdiam melihat punggung nya yang bisa dibilang sedikit kekar tapi tetap saja dia lelaki seram dengan tatapan dingin yang dia miliki.
Selesai mata kuliahku hari ini aku tak ingin cepat-cepat pulang, aku ingin keperpustakaan menyendiri sambil membaca novel, seperti biasa aku selalu memilih meja sudut paling belakang baru aku membuka novel ada seseorang berjalan ke arah ku ah ternyata lelaki seram itu
"senja kan?" tanya padaku
"Ha? apa? dari mana kamu tau nama ku?" tanyaku padanya
"Hanya orang-orang cuek yang tak tau namamu senja kinanti" jawabnya sambil tersenyum
tersenyum dengan sangat tulus, tapi aku seakan disindir secara halus dengan kalimat nya barusan
Dan aku hanya berkata "oh jadi begitu" dia masih tersenyum memandangi ku lalu dia melanjutkan pembicaraan nya
"Sebelumnya kamu pernah melihatku di cafe favorite mu ketika aku sedang bertengkar dengan indah kan, tapi kamu tak tau nama ku bahkan kamu tak tau aku ini teman satu kampus mu, nama ku Fitra" ucapnya
Aku terenyah dengan pembicaraan nya dan mengutuk diriku sendiri kenapa aku begitu cuek pada lingkungan sekitarku, oh nama nya fitra dan pacarnya indah ternyata dia tak sedingin tatapan nya, jawabku dihati
"Oh iya maaf aku tak sengaja melihatmu waktu itu saat kalian sedang bertengkar" jawabku sambil tersenyum
"Itu tempat umum kamu tak perlu minta maaf, kamu jangan menangis dicafe lagi ya manis mu hilang" jawabnya sambil tersenyum
Mata ku langsung terbelalak dengan ucapannya barusan, apa? dia melihatku menangis? oh tuhan bodohnya diriku, "apa kamu melihat ku saat itu? kamu dimana? aku tak melihat mu" jawabku dengan cepat
Dia tertawa melihat tingkah ku dan berkata "kamu itu wanita tercuek yang pernah aku kenal senja, jelas saja kamu tak melihat ku, kamu saja sibuk melihat ke luar ke arah senja, padahal aku tepat didepan mu, aku melihatmu dari kamu datang sampai kamu menangis lalu berlalu" ucapnya lagi dengan senyuman terlebar yang dia punya sepertinya
Ternyata diam-diam dia selalu memperhatikan ku, aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya lalu aku terus mendengarkan ceritanya tentang aku yang selalu terlihat oleh nya,
"Wid aku menemukan lelaki sepertimu tapi aku harap dia tak meninggalkan ku seperti kamu wid, diam-diam benak ku berkata seperti itu saat aku memandangi fitra yang sedang bercerita".
Semenjak obrolan di perpus saat itu pertemanan terjalin diantara kami, aku tak sendirian lagi sekarang tapi apakah ini hanya hubungan pertemanan atau... ah yang jelas sekarang aku tak ingin kehilangan nya..