Elegant Rose SenjaDnanti

Jumat, 25 Agustus 2017

Maaf

Hai..
Apa kabar?
Kapan ya terakhir kita bertemu?
Ah aku ingat, itu sudah lama sekali..
Saat rasa itu masih kamu simpan dengan rapi dan saat aku tak paham dengan rasa itu.
Hmm..
Aku kini sedang duduk sendiri karena memikirkan banyak hal, memikirkan tentang kita yang dulu pernah aku sia-siakan.
Kamu tahu, beberapa hari yang lalu aku menemukan penjelasan tentang apa yang terjadi dengan kita.
Hari ini, setelah aku mengecek semua sosial media kita berdua, aku semakin tersadar dengan kebodohan yang pernah aku ciptakan sendiri.
Ada rasa yang tak bisa aku jelaskan saat ini...

Mungkin ini sungguh sudah terlambat.
Tapi bisakah kamu menerima permintaan maaf ini?
Aku harap bisa...
Maaf karena telah menyia-nyiakan 'Kita' yang dulu.
Maaf untuk keterlambatan aku menyadari betapa bodohnya aku menyia-nyiakan rasa tulus itu.
Maaf, untuk harapan agar kamu kembali yang seketika hadir lagi.
Maaf karena aku lancang bermimpi untuk diberi kesempatan sekali lagi.
Tapi aku harus sadar dan  cukup tahu diri...

 my Rara..

Saat kamu menemukan tulisan ini, aku harap kamu tak goyah dan tetap bahagia bersamanya..
Karena sekarang yang aku inginkan hanya melihat kamu bahagia.
Meski bukan dengan aku.
Meski bukan tentang kita.

Sabtu, 30 Mei 2015

Tak terganti III

Pukul 05:00 Wib
Aku terbangun dari tidur singkat ku, aku melihat ponselku tapi tak ada pesan masuk lagi dari diky. Aku menghela nafas panjang dan berjalan keluar kamar menuju dapur, saat aku tengah meneguk segelas air putih ada yang mengetuk pintu rumahku sepagi ini tanpa mengucapkan salam atau yang lainnya.
Aku sebenarnya takut untuk membuka pintu sepagi ini, mungkin saja kan itu orang iseng atau orang jahat jadi aku memilih untuk diam dan tidak membukakan pintu.

Aku melanjutan aktivitas ku lagi tanpa menggubris ketukan pintu itu, selesai mandi dan bersiap-siap untuk kuliah aku melihat ponselku, ada 6 panggilan tak terjawab dan 1 pesan dari diky.
Aku langsung melihat pesannya, dan ternyata ketukan pagi tadi itu adalah ketukan yang didaratkannya. Aku mencoba mehubunginya kembali berkali-kali tapi tak ada jawaban, tapi saat aku keluar dari rumah, aku menemukan kotak kecil berwarna merah dengan pita hitam.

Aku meraihnya dan membukanya dengan perlahan, isinya hanya secarik kertas berisi tulisan "Di cafe favorit kamu jam 4 sore"
Aku melihat sekeliling rumahku tapi tak ada orang...

Pukul 16:32 Wib
Aku terlambat untuk kali ini, aku memasuki cafe dengan terburu-buru lalu aku melihat sekeliling mencari diky, dan yap dia ada di tempat paling sudut dicafe ini, tempat itu adalah tempat duduk favoritku.
Aku mengehela nafas panjang dan duduk di depannya, tapi ia malah terdiam menatapku dengan raut wajah penuh kecemasan.

          “Maaf aku terlambat” kataku padanya 
          “Kamu pucat, kamu sakit bun?”
          “Masa sih? Enggak kok aku sehat”
          “Enggak,enggak, kamu sakit kan?” sambil menempelkan tangannya pada keningku
           Aku menepis tangannya “Gak sakit kok, kecapekan saja mungkin, kamu mau ngomingin apa?”

Ia menghela nafas berkali-kali sambil menatapku dan akhirnya ia angkat bicara juga. Seperti sulit mencerna apa yang dikatakannya, menatapnya semakin tidak jelas dan bruuuuk....

~~~
          “Kamu sudah sadar bun? Kamu bikin aku khawatir bun, aku kan sudah pernah bilang jaga kesehatanmu,jangan suka begdang bun” ia berkata sambil mengenggam tanganku dengan raut wajah cemas
          “Aku dimana dik?”
          “Kamu dirumah aku, tadi kamu sudah diperiksa dengan mama dan katanya kamu cuman kecapekan ”
          “Aku mau pulang dik”
          “Loh? Enggak bun kamu baru sadar. Kamu tu sendirian dirumah lebih baik kamu disini saja”
          “Kan ada bibi, lagian aku tu cuman kecapekan. Pokoknya aku mau pulang.”
          “Bun”

Aku berdiri dan mengambil tasku berjalan keluar dan diky tetap masih keras tidak membolehkan ku pulang,sedikit pertengkaran diantara kami membuat mamanya turun dan menghampiriku, dan memberi pengertian pada anaknya akhirnya diky mengalah dan mengantarku pulang.

Pukul 00:38
Aku terbangun dari tidur lelapku dengan badan yang panasnya mulai menurun, aku mencari ponselku banyak pesan masuk dan salah satunya dari diky, aku memilih untuk mengabaikan pesannya tapi menelponnya ditengah larut malam ini.
Aku bertanya tentang apa yang dia katakan sore tadi meski awalnya dia tidak mau cerita dengan alasan ini sudah malam tapi akhirnya dia mengalah lagi.
Mestinya ia meminta secara langsung tadi sore, tapi karena aku pingsan barulah malam ini ia memintanya.
Meminta aku untuk medampinginya.
Lengkungan senyum dan gumpalan air dimataku malam ini, semoga jadi kebahagiaan yang direstukan orang-orang terkasih diantara kami.
Aku mencintaimu dik...

Selasa, 21 April 2015

Tak terganti II

Aku merindukannya hingga malam semakin larut aku masih menatap ponselku, melihat fotonya membuat aku makin merindu, sudah seminggu ia tak ada kabar.
Rifandi diky apa kabarmu, apa yang salah dengan kita hingga kamu tak kunjung memberi kabar atau kamu sedang berpikir, gerutuku dalam hati.

Malam semakin larut tugas kampusku pun belum juga selesai, akhirnya aku meletakkan ponselku, meninggalkan hayalan tentang diky dan mulai mengerjakan tugasku. Aku sangat hobi mengemil jadi setiap membuat tugas aku pasti mengemil makanan ringan, karena mengemil bisa membuat mata ku tak mengantuk. Sudah hampir 3 jam aku mengerjakan tugas dan akhirnya selesai juga, aku melirik jam di dinding ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku menghela napas panjang. 

Baru aku ingin merebahkan tubuhku ponselku berdering, aku meraihnya dengan malas tapi saat aku membukanya tertera nama diky. Mataku yang tadinya sudah sangat mengantuk tiba-tiba tak mengantuk lagi, aku membaca pesannya.

“Bun maaf seminggu ini aku tak menghubungimu, maaf telah mengganggu tidurmu malam ini tapi aku merindukanmu, aku ingin memberi jawaban atas pertanyaan mu minggu lalu. Bun seminggu aku berusaha menghilang, tak memberi kabar, menahan kerinduan ini, berusaha fokus pada kuliah ku tapi ternyata semua semakin berantakan, aku terus bertanya pada hatiku, aku bertanya pada tuhan, apakah ini cinta atau hanya obsesi belaka? Tapi malam ini semua tak dapat ku bendung lagi, aku benar-benar merasakan cinta dalam hatiku, aku menemukan jawabannya. Aku mencintaimu Embun Ramadhani”


Seketika air mata membasahi pipiku, aku tak mampu merangkai kata lagi dan aku memutuskan untuk tidur, berharap aku bertemu dengannya lewat mimpi. Karena sesungguhnya aku pun begitu mencintai dan merindukannya.

Bersambung...

Jumat, 17 April 2015

Tak terganti

          Awalnya saling berkenalan dan dari tatapan pertama kali bertemu mungkin ia jatuh hati, mungkin juga aku jatuh hati. Tapi tidak, aku tak ingin menjalin hubungan dengan orang yang sudah termiliki orang lain.
Tapi aku pun tak bisa pungkiri, ia begitu mempesona. Wajahnya, senyumnya yang khas dengan gigi gingsul yang ia miliki, badannya yang tegap, caranya berbicara dengan kewibawaannya. Aaah aku begitu terpesona
Namun, aku tak mampu memilikinya...

          Aku singkirkan perasaan itu setiap kali kamu menghubungiku, susah payah aku membiasakan diri agar aku tak jatuh cinta kepadamu. Tapi sering kali pembicaraan mu mengarah pada sesuatu yang aku impikan serta yang aku takutkan; Cinta.
Anggap saja aku seseorang yang mudah jatuh cinta, tapi sungguh kali ini aku benar-benar serius dengan perasaan ini, ini bukan hanya sekedar obsesi belaka.

          Semakin hari kita semakin dekat, semakin pula aku merasa bahagia sekaligus merasa khawatir takut akan dibilang perusak hubungan orang lain, namun kamu selalu meyakini bahwa apa yang aku takuti takkan pernah terjadi.
Pesan singkat yang selalu kamu kirim kepadaku lewat BBM selalu berisi kata manis,seperti pujian juga perhatian, pesan singkat itu selalu aku tunggu, seperti kamu yang telah 3 bulan terakhir ini aku tunggu.

                “Embun, sudah tidur?”  sapanya malam itu
                “Belum, kenapa dik?”  balasku kepadanya, dalam hati aku bertanya kenapa ia selarut ini menghubungiku, tumben sekali.
Dengan cepat ia membalas lagi “Bun, aku melepaskannya. Rasanya semua terlalu hampa selama ini, tak ku temukan lagi kebahagian itu dalam hubungan ini.”

Terkejut juga bahagia perasaanku saat membacanya, lalu aku membalas “Sudahkah yakin pada keputusanmu dik?” Hanya kalimat itu yang mampu keluar dalam otakku, bukan karena terlalu bahagia tapi karena ini sudah sangat larut membuat otakku sulit untuk diajak berpikir.

                “Iya, aku sudah sangat yakin. Ntah ini pantas atau tidak, bun aku menyayangimu! Aku merasa bahagia saat denganmu, ini jugalah salah satu alasan mengapa aku melepaskan winda”

Sungguh saat membacanya otakku terpaksa dibuat berpikir keras, lama aku terdiam dan hanya menatap ponselku hingga diky membalas lagi dengan berkata “Bun, maaf aku mengganggu malam mu tapi sungguh aku hanya ingin kamu tau inilah realitanya”

Bukan ingin menjadi manusia munafik, tapi ntah kenapa aku ragu padanya. Ada kekhawatiran dalam benakku, dan tak ingin membuat ia menunggu lebih lama aku membalas pesannya “Dik, ini terlalu cepat rasakan saja dulu dan tanyakan pada hatimu sebanarnya ini benar rasa sayang atau hanya obsesi.”


Mungkin ia kecewa pada jawaban ku atau mungkin ia sedang berpikir,ah ntahlah ia hanya read bbm ku malam itu. Hingga sampai seminggu lamanya ia tak menghubungiku lagi.

Bersambung...

Jumat, 26 Desember 2014

Sekali lagi ini...

Aneh bukan rasanya, seolah semua ingin tumpah tapi sedikit pun tak tumpah. Rasanya menjatuhkannya untuk tumpah pun aku tak sanggup.
Aku begitu egois dulu tapi ntah kenapa kamu mampu membuatku meredamnya, aku begitu tak pernah bisa meredam emosi ku dulu tapi sekarang ntah kenapa seolah kamu menyihirku lalu membuatku mampu meredam emosiku.

Aku terkadang berfikir apa aku benar memiliki rasa yang sama denganmu? Saat kita bertengkar terkadang aku ingin menangis tapi seperti paragraf pertama yang ku tulis tadi, aku tak bisa meluapkan segalanya dengan tangisan.
Baru kali ini aku benar-benar berusaha ingin membuat seseorang bahagia dengan menghilangkan sifat burukku.
Tahukah kamu apa artinya ini?

Aku mencintaimu sekali lagi...dengan ketulusan yang aku punya, tak pernah sedikit pun aku merasa bosan, percayalah aku masih disini. Masih mencintaimu..

Minggu, 30 November 2014

Melewatkanmu♪

Harusnya aku tlah melewatkanmu
Menghapuskan mu dari dalam benakku
Namun ternyata sulit bagiku 
Merelakanmu pergi dari hatiku♪ ♪ 

Lagu melewatkanmu dari adera melantun dengan indah di telinga ku..Mewakilkan segala perasaan yang hingga saat ini belum mampu aku singkirkan, wajah mu yang selalu terbayang, nama mu yang masih terus terselip dalam benakku, rasa nya semua sulit untuk ku buang jauh dari hidup ku sekali pun aku tau kita tak mungkin lagi bersama. Terkadang aku bertanya dalam hati ku apa istimewa nya kamu di hati ini? Padahal aku tau kau menyakiti ku berulang-ulang kali, pergi tanpa pamit, pulang pun tanpa ku pinta.

Berkali-kali seperti itu, hingga aku sampai pada titik jenuhku. Mengambil suatu keputusan yang aku selalu berdoa semoga ini keputusan yang benar. Meskipun akhirnya aku sendiri yang menderita akan keputusan yang aku ambil. Tapi aku percaya satu hal aku kan kembali tersenyum bahagia tanpa tangis yang hadir pada hidupku. Tahukah kamu aku sebegini menderita nya kamu buat, kenapa rasa dan kenangan itu selalu menyatu dengan komplit dalam hidupku?

Aku terus bertanya dan terus menguatkan diriku sendiri ketika lagi-lagi kamu berhasil menyelinap masuk dalam pikiranku, aku harus kuat menghadapi ini semua meski tanpa kamu disisi, rasanya berbeda sungguh sangat berbeda tapi percayalah aku takkan mengganggumu lagi, aku kan hilangkan kamu dari hidupku meski tidak di hatiku. Terimakasih untuk segala tawa, sakit, tangis semua kenangan yang pernah kita ciptakan, berbahagialah sekarang meski bukan aku lagi inspirasi kebahagianmu...

Kamis, 29 Mei 2014

Masih cinta? I

               Senang sekali rasanya bisa selalu menikmati senja seperti ini hanya di temani secangkir cappucino hangat dan laptop di depan ku, sudah seminggu ini aku selalu terbayang tatapan dingin lelaki itu tatapan yang tak pernah aku suka dari lelaki mana pun, sungguh itu menyakitkan
tapi sepertinya wajar saja lelaki itu memasang tatapan seperti itu saat sedang bertengkar dengan kekasihnya, ya tetap saja aku tak pernah menyukai tatapan dingin menyakitkan itu, sungguh memuakkan

              Aku menarik napas dan mendengus dengan kesal, lagi-lagi aku mengutuk pikiran ku yang kacau karena lelaki itu dan mengutuk perbuatan bodohku mengingat "lelaki seram" itu, ya itu panggilan ku untuk lelaki itu, aku segera sadar dari perbuatan bodohku dan kembali menatap layar laptop yang sedari tadi berbunyi menunjukkan bahwa ada satu pesan yang masuk pada email pribadi ku

               Sebenarnya aku sungguh malas membuka pesan-pesan yang masuk ke email pribadiku, banyak sekali pesan dari orang-orang yang tak ku kenal dan selalu memujiku dengan kalimat gombal mereka yang memuakkan itu dan aku lagi-lagi tak ingin melihat nya kubiarkan saja pesan itu tanpa ku buka bahkan tak ku lihat, aku memutar lagu favorite ku It will rain dari Bruno mars sambil melamun melihat senja yang indah ini mereka membawa ku kembali ke masa lalu...

               Lelaki berwajah dingin itu, lelaki cuek itu, cinta pertamaku
Lelaki yang hadir dalam hidup ku 4 tahun lalu, lelaki yang ku kenal dari temanku, lelaki yang ku tau sangat angkuh itu pernah mengisi hari-hari ku selama setahun, memberi cinta juga sakit, memberi tawa juga tangis

               "apa kabar kamu wid?...aku rindu"
sungguh aku benci mengingat mu tapi kamu selalu hadir dipikiranku, hanya kata-kata itu saja yang terus muncul di benak ku...selalu, saat aku mengingatmu
kamu tau sakitnya jadi aku? sakitnya aku ketika kamu tinggalkan begitu saja, bahkan sampai sekarang tak pernah ada kabar.. Seandainya kamu berada diposisi ku apa sanggup kamu tegar? Apa mungkin kamu mencari aku seperti aku mencarimu? Sekarang aku hanya berharap kamu tak pernah muncul lagi. karena aku tau bertemu denganmu hanya akan menambah luka wid, bahkan juga akan membuka luka lama wid..
Seandainya aku bisa teriak dan kamu bisa dengar teriakan ku wid.. aku akan berkata
               "Aku benci mencintaimu wid, aku sakit seperti ini tolong jangan kembali jangan pernah kembali sekalipun kamu ingin menjelaskan alasan kepergianmu, aku tak ingin tau lagi"

Seketika air mata ku jatuh untuk kesekian kali nya, aku tersadar dan segara menghapus nya tak ingin ada yang melihat aku menangis, apa lagi jika ada yang tau aku menangisi widi lagi, senja sudah mulai tenggelam aku segara membereskan laptop ku bergegas untuk pulang dan beristirahat

Widi Ramdhani aku merindukanmu
Itu kalimat terakhir yang muncul dalam benakku saat langkah ku berhenti sejenak sebelum pulang saat aku melihat kearah senja..

             Jam 08.00 aku lagi-lagi terlambat ke kampus tapi untunglah kampus hanya jarak sekilan dari tempat kost ku, aku segera berangkat dan aku suka sekali udara pagi yogyakarta ini sehingga aku tau aku terlambat  pun aku masih terus saja berjalan dengan santai sambil tersenyum tapi ini sudah jadi kebiasaan ku jadi tak akan ada orang yang mengira aku gila karena tersenyum sendiri haha karena sebagian orang dalam lingkungan kampus maupun tempat kost mengenali ku, meskipun aku tak begitu kenal dengan mereka

           Aku tak buang-buang waktu saat aku sampai dikampus aku langsung memasuki kelas ku, seketika aku tersentak saat aku memasuki kelas aku melihat lelaki seram itu duduk tepat didepan tempat duduk ku, tapi aku terus saja berjalan ketempat duduk ku berusaha biasa-biasa saja, ketika sahabat ku lola datang aku segera bertanya "apakah lelaki di depan ku ini mahasiswa baru?" seperti biasa aku pasti selalu jadi bahan ketawaannya mungkin karena aku memang seorang wanita yang cuek dan bahagia berpergian sendiri, tapi dulu aku pernah tak sendirian dulu ada lelaki yang membuat kebiasaan buruk ku menghilang tapi lagi-lagi itu dulu bukan sekarang..
sehingga aku tak tau jika lelaki seram itu ternyata teman sekelas ku, teman satu kampus ku aku terkaget-kaget ketika lola bilang dia mahasiswa lama dengan jitakkannya yang mendarat ke kepala ku dan aku hanya bisa terdiam melihat punggung nya yang bisa dibilang sedikit kekar tapi tetap saja dia lelaki seram dengan tatapan dingin yang dia miliki.

         Selesai mata kuliahku hari ini aku tak ingin cepat-cepat pulang, aku ingin keperpustakaan menyendiri sambil membaca novel, seperti biasa aku selalu memilih meja sudut paling belakang baru aku membuka novel ada seseorang berjalan ke arah ku ah ternyata lelaki seram itu
        "senja kan?" tanya padaku

        "Ha? apa? dari mana kamu tau nama ku?" tanyaku padanya

        "Hanya orang-orang cuek yang tak tau namamu senja kinanti" jawabnya sambil tersenyum
tersenyum dengan sangat tulus, tapi aku seakan disindir secara halus dengan kalimat nya barusan

Dan aku hanya berkata "oh jadi begitu" dia masih tersenyum memandangi ku lalu dia melanjutkan pembicaraan nya

        "Sebelumnya kamu pernah melihatku di cafe favorite mu ketika aku sedang bertengkar dengan indah kan, tapi kamu tak tau nama ku bahkan kamu tak tau aku ini teman satu kampus mu, nama ku Fitra" ucapnya

Aku terenyah dengan pembicaraan nya dan mengutuk diriku sendiri kenapa aku begitu cuek pada lingkungan sekitarku, oh nama nya fitra dan pacarnya indah ternyata dia tak sedingin tatapan nya, jawabku dihati
        "Oh iya maaf aku tak sengaja melihatmu waktu itu saat kalian sedang bertengkar" jawabku sambil tersenyum

       "Itu tempat umum kamu tak perlu minta maaf, kamu jangan menangis dicafe lagi ya manis mu hilang" jawabnya sambil tersenyum

Mata ku langsung terbelalak dengan ucapannya barusan, apa? dia melihatku menangis? oh tuhan bodohnya diriku, "apa kamu melihat ku saat itu? kamu dimana? aku tak melihat mu" jawabku dengan cepat

Dia tertawa melihat tingkah ku dan berkata "kamu itu wanita tercuek yang pernah aku kenal senja, jelas saja kamu tak melihat ku, kamu saja sibuk melihat ke luar ke arah senja, padahal aku tepat didepan mu, aku melihatmu dari kamu datang sampai kamu menangis lalu berlalu" ucapnya lagi dengan senyuman terlebar yang dia punya sepertinya

       Ternyata diam-diam dia selalu memperhatikan ku, aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya lalu aku terus mendengarkan ceritanya tentang aku yang selalu terlihat oleh nya,
"Wid aku menemukan lelaki sepertimu tapi aku harap dia tak meninggalkan ku seperti kamu wid, diam-diam benak ku berkata seperti itu saat aku memandangi fitra yang sedang bercerita".

Semenjak obrolan di perpus saat itu pertemanan terjalin diantara kami, aku tak sendirian lagi sekarang tapi apakah ini hanya hubungan pertemanan atau... ah yang jelas sekarang aku tak ingin kehilangan nya..