Elegant Rose SenjaDnanti: 2015

Sabtu, 30 Mei 2015

Tak terganti III

Pukul 05:00 Wib
Aku terbangun dari tidur singkat ku, aku melihat ponselku tapi tak ada pesan masuk lagi dari diky. Aku menghela nafas panjang dan berjalan keluar kamar menuju dapur, saat aku tengah meneguk segelas air putih ada yang mengetuk pintu rumahku sepagi ini tanpa mengucapkan salam atau yang lainnya.
Aku sebenarnya takut untuk membuka pintu sepagi ini, mungkin saja kan itu orang iseng atau orang jahat jadi aku memilih untuk diam dan tidak membukakan pintu.

Aku melanjutan aktivitas ku lagi tanpa menggubris ketukan pintu itu, selesai mandi dan bersiap-siap untuk kuliah aku melihat ponselku, ada 6 panggilan tak terjawab dan 1 pesan dari diky.
Aku langsung melihat pesannya, dan ternyata ketukan pagi tadi itu adalah ketukan yang didaratkannya. Aku mencoba mehubunginya kembali berkali-kali tapi tak ada jawaban, tapi saat aku keluar dari rumah, aku menemukan kotak kecil berwarna merah dengan pita hitam.

Aku meraihnya dan membukanya dengan perlahan, isinya hanya secarik kertas berisi tulisan "Di cafe favorit kamu jam 4 sore"
Aku melihat sekeliling rumahku tapi tak ada orang...

Pukul 16:32 Wib
Aku terlambat untuk kali ini, aku memasuki cafe dengan terburu-buru lalu aku melihat sekeliling mencari diky, dan yap dia ada di tempat paling sudut dicafe ini, tempat itu adalah tempat duduk favoritku.
Aku mengehela nafas panjang dan duduk di depannya, tapi ia malah terdiam menatapku dengan raut wajah penuh kecemasan.

          “Maaf aku terlambat” kataku padanya 
          “Kamu pucat, kamu sakit bun?”
          “Masa sih? Enggak kok aku sehat”
          “Enggak,enggak, kamu sakit kan?” sambil menempelkan tangannya pada keningku
           Aku menepis tangannya “Gak sakit kok, kecapekan saja mungkin, kamu mau ngomingin apa?”

Ia menghela nafas berkali-kali sambil menatapku dan akhirnya ia angkat bicara juga. Seperti sulit mencerna apa yang dikatakannya, menatapnya semakin tidak jelas dan bruuuuk....

~~~
          “Kamu sudah sadar bun? Kamu bikin aku khawatir bun, aku kan sudah pernah bilang jaga kesehatanmu,jangan suka begdang bun” ia berkata sambil mengenggam tanganku dengan raut wajah cemas
          “Aku dimana dik?”
          “Kamu dirumah aku, tadi kamu sudah diperiksa dengan mama dan katanya kamu cuman kecapekan ”
          “Aku mau pulang dik”
          “Loh? Enggak bun kamu baru sadar. Kamu tu sendirian dirumah lebih baik kamu disini saja”
          “Kan ada bibi, lagian aku tu cuman kecapekan. Pokoknya aku mau pulang.”
          “Bun”

Aku berdiri dan mengambil tasku berjalan keluar dan diky tetap masih keras tidak membolehkan ku pulang,sedikit pertengkaran diantara kami membuat mamanya turun dan menghampiriku, dan memberi pengertian pada anaknya akhirnya diky mengalah dan mengantarku pulang.

Pukul 00:38
Aku terbangun dari tidur lelapku dengan badan yang panasnya mulai menurun, aku mencari ponselku banyak pesan masuk dan salah satunya dari diky, aku memilih untuk mengabaikan pesannya tapi menelponnya ditengah larut malam ini.
Aku bertanya tentang apa yang dia katakan sore tadi meski awalnya dia tidak mau cerita dengan alasan ini sudah malam tapi akhirnya dia mengalah lagi.
Mestinya ia meminta secara langsung tadi sore, tapi karena aku pingsan barulah malam ini ia memintanya.
Meminta aku untuk medampinginya.
Lengkungan senyum dan gumpalan air dimataku malam ini, semoga jadi kebahagiaan yang direstukan orang-orang terkasih diantara kami.
Aku mencintaimu dik...

Selasa, 21 April 2015

Tak terganti II

Aku merindukannya hingga malam semakin larut aku masih menatap ponselku, melihat fotonya membuat aku makin merindu, sudah seminggu ia tak ada kabar.
Rifandi diky apa kabarmu, apa yang salah dengan kita hingga kamu tak kunjung memberi kabar atau kamu sedang berpikir, gerutuku dalam hati.

Malam semakin larut tugas kampusku pun belum juga selesai, akhirnya aku meletakkan ponselku, meninggalkan hayalan tentang diky dan mulai mengerjakan tugasku. Aku sangat hobi mengemil jadi setiap membuat tugas aku pasti mengemil makanan ringan, karena mengemil bisa membuat mata ku tak mengantuk. Sudah hampir 3 jam aku mengerjakan tugas dan akhirnya selesai juga, aku melirik jam di dinding ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku menghela napas panjang. 

Baru aku ingin merebahkan tubuhku ponselku berdering, aku meraihnya dengan malas tapi saat aku membukanya tertera nama diky. Mataku yang tadinya sudah sangat mengantuk tiba-tiba tak mengantuk lagi, aku membaca pesannya.

“Bun maaf seminggu ini aku tak menghubungimu, maaf telah mengganggu tidurmu malam ini tapi aku merindukanmu, aku ingin memberi jawaban atas pertanyaan mu minggu lalu. Bun seminggu aku berusaha menghilang, tak memberi kabar, menahan kerinduan ini, berusaha fokus pada kuliah ku tapi ternyata semua semakin berantakan, aku terus bertanya pada hatiku, aku bertanya pada tuhan, apakah ini cinta atau hanya obsesi belaka? Tapi malam ini semua tak dapat ku bendung lagi, aku benar-benar merasakan cinta dalam hatiku, aku menemukan jawabannya. Aku mencintaimu Embun Ramadhani”


Seketika air mata membasahi pipiku, aku tak mampu merangkai kata lagi dan aku memutuskan untuk tidur, berharap aku bertemu dengannya lewat mimpi. Karena sesungguhnya aku pun begitu mencintai dan merindukannya.

Bersambung...

Jumat, 17 April 2015

Tak terganti

          Awalnya saling berkenalan dan dari tatapan pertama kali bertemu mungkin ia jatuh hati, mungkin juga aku jatuh hati. Tapi tidak, aku tak ingin menjalin hubungan dengan orang yang sudah termiliki orang lain.
Tapi aku pun tak bisa pungkiri, ia begitu mempesona. Wajahnya, senyumnya yang khas dengan gigi gingsul yang ia miliki, badannya yang tegap, caranya berbicara dengan kewibawaannya. Aaah aku begitu terpesona
Namun, aku tak mampu memilikinya...

          Aku singkirkan perasaan itu setiap kali kamu menghubungiku, susah payah aku membiasakan diri agar aku tak jatuh cinta kepadamu. Tapi sering kali pembicaraan mu mengarah pada sesuatu yang aku impikan serta yang aku takutkan; Cinta.
Anggap saja aku seseorang yang mudah jatuh cinta, tapi sungguh kali ini aku benar-benar serius dengan perasaan ini, ini bukan hanya sekedar obsesi belaka.

          Semakin hari kita semakin dekat, semakin pula aku merasa bahagia sekaligus merasa khawatir takut akan dibilang perusak hubungan orang lain, namun kamu selalu meyakini bahwa apa yang aku takuti takkan pernah terjadi.
Pesan singkat yang selalu kamu kirim kepadaku lewat BBM selalu berisi kata manis,seperti pujian juga perhatian, pesan singkat itu selalu aku tunggu, seperti kamu yang telah 3 bulan terakhir ini aku tunggu.

                “Embun, sudah tidur?”  sapanya malam itu
                “Belum, kenapa dik?”  balasku kepadanya, dalam hati aku bertanya kenapa ia selarut ini menghubungiku, tumben sekali.
Dengan cepat ia membalas lagi “Bun, aku melepaskannya. Rasanya semua terlalu hampa selama ini, tak ku temukan lagi kebahagian itu dalam hubungan ini.”

Terkejut juga bahagia perasaanku saat membacanya, lalu aku membalas “Sudahkah yakin pada keputusanmu dik?” Hanya kalimat itu yang mampu keluar dalam otakku, bukan karena terlalu bahagia tapi karena ini sudah sangat larut membuat otakku sulit untuk diajak berpikir.

                “Iya, aku sudah sangat yakin. Ntah ini pantas atau tidak, bun aku menyayangimu! Aku merasa bahagia saat denganmu, ini jugalah salah satu alasan mengapa aku melepaskan winda”

Sungguh saat membacanya otakku terpaksa dibuat berpikir keras, lama aku terdiam dan hanya menatap ponselku hingga diky membalas lagi dengan berkata “Bun, maaf aku mengganggu malam mu tapi sungguh aku hanya ingin kamu tau inilah realitanya”

Bukan ingin menjadi manusia munafik, tapi ntah kenapa aku ragu padanya. Ada kekhawatiran dalam benakku, dan tak ingin membuat ia menunggu lebih lama aku membalas pesannya “Dik, ini terlalu cepat rasakan saja dulu dan tanyakan pada hatimu sebanarnya ini benar rasa sayang atau hanya obsesi.”


Mungkin ia kecewa pada jawaban ku atau mungkin ia sedang berpikir,ah ntahlah ia hanya read bbm ku malam itu. Hingga sampai seminggu lamanya ia tak menghubungiku lagi.

Bersambung...